Rabu , 20 September 2017
Beranda / Artikel / PERADABAN EKONOMI KREATIF KAJIAN KAMPUNG BATIK, SEBAGAI PERLINDUNGAN WARISAN BUDAYA KOTA SOLO

PERADABAN EKONOMI KREATIF KAJIAN KAMPUNG BATIK, SEBAGAI PERLINDUNGAN WARISAN BUDAYA KOTA SOLO

Oleh :
Solichul Hadi Achmad Bakri
Koperasi Batik BATARI, Surakarta
Yayasan Pendidikan Batik (YPB), Surakarta
Yayasan Perguruan Tinggi Islam Batik (YAPERTIB), Surakarta

shadibakri@uniba.ac.id

Dunia kini memasuki peradaban gelombang keempat, yang disebut dengan era kreatif. Tiga gelombang sebelumnya, mengutip futurolog Alvin Toffler dalam bukunya Future Shock (1970), adalah era pertanian, era industri, dan era informasi. Adapun penggerak utama pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa pada era keempat ini adalah kreativitas dan inovasi. Kedua hal itu menjadi keniscayaan, jika sebuah bangsa ingin bersaing di tengah dinamika ekonomi dunia yang penuh guncangan. Dalam lima tahun terakhir, misalnya, dunia diguncang oleh rentetan krisis ekonomi. Pada tahun 2007/2008, krisis sub prime mortgage terjadi di Amerika Serikat dan mengakibatkan keruntuhan raksasa-raksasa ekonomi seperti Lehman Brothers, Bear Stearns, dan AIG. Kini, krisis ekonomi mengguncang Eropa akibat krisis utang di Yunani, yang mengancam keberlangsungan Zona Euro.

Beruntung dampak krisis global terhadap Indonesia tidak terlalu besar, mengingat pangsa ekspor Indonesia terhadap GDP hanya sekitar 45%. Angka itu jauh berbeda dengan Singapura yang mencapai 377% atau Hong Kong yang mencapai 380% (data riset Standard Chartered Bank). Indonesia juga memiliki ketahanan ekonomi yang kuat dari sisi cadangan devisa, mencapai USD112,2 miliar di akhir Februari 2012.

Kondisi tersebut merupakan momentum yang harus dimanfaatkan, khususnya oleh para wirausahawan yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebab, ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh konsumsi domestik dan tidak bergantung pada luar negeri. Menurut catatan Kementerian Koperasi dan UMKM, dalam setahun terakhir terjadi penambahan wirausahawan baru yang luar biasa, sekitar 3,2 juta. Tentu saja kita tidak menginginkan penambahan yang tinggi itu tidak disertai kualitas dan kontinuitas dari usaha yang dilakukan para wirausahawan. Kuncinya adalah inovasi dan kreativitas.

Belakangan ini kita kerap mendengar istilah industri kreatif. Industri ini diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan, dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta. Industri kreatif dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian. Dalam hal ini kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama.

Semangat pemerintah untuk mengembangkan ekonomi kreatif, menurut catatan penulis, setidaknya dimulai ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutannya dalam acara pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia pada Juli 2007 silam. Ekonomi kreatif, sebagaimana disampaikan Presiden SBY ketika itu, bersumber dari ide, seni, dan teknologi yang dikelola untuk menciptakan kemakmuran. Penulis juga mencatat beberapa kali seruan Presiden SBY mengenai pentingnya inovasi dan kreativitas bagi dunia industri. Hal tersebut menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap ekonomi kreatif. Sampai-sampai ketika melakukan perombakan kabinet pada Oktober 2011 lalu, Presiden SBY mengubah Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Tujuan pembangunan di bidang sosial dan budaya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang ditandai dengan meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat serta memberi perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar. Sasaran umum yang akan dicapai adalah meningkatnya usia harapan hidup, menurunnya laju pertumbuhan penduduk, menurunnya angka kelahiran total, menurunnya angka kematian kasar, meningkatnya ketahanan sosial dan budaya, meningkatnya kedudukan dan peranan perempuan, meningkatnya partisipasi aktif pemuda, serta meningkatnya pembudayaan dan prestasi olahraga. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, telah dilaksanakan berbagai kebijakan dan program-program pembangunan di bidang sosial dan budaya, yang meliputi bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial, termasuk kependudukan dan keluarga berencana; kebudayaan; kedudukan dan peranan perempuan; serta pemuda dan olah raga.

Download Naskah

Cek Tulisan Berikut

Manajemen Risiko Kelelahan : Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko

Secara historis telah dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, meski tidak secara khusus untuk mengendalaikan kelelahan. …