Kamis , 14 Desember 2017
Beranda / Artikel / PERBAIKAN PERALATAN KAMAR MANDI MENINGKATKAN KENYAMANAN LANSIA DI PUSAT KEGIATAN LANSIA AISYIYAH, SURAKARTA

PERBAIKAN PERALATAN KAMAR MANDI MENINGKATKAN KENYAMANAN LANSIA DI PUSAT KEGIATAN LANSIA AISYIYAH, SURAKARTA

USULAN PENELITIAN
Dalam Rangka Penyusunan Tesis Program Studi Ergonomi
Fisiologi Kerja Program Pasca Sarjana
Universitas Udayana

Oleh :
SOLICHUL HADI ACHMAD BAKRI

Suksesnya program keluarga berencana (KB), meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan dan kualitas kehidupan masyarakat umum di Indonesia, berdampak meningkatnya prosentase lanjut usia (lansia) dari tahun ke tahun. Peristiwa penuaan merupakan peristiwa alami, tetapi hampir setiap orang mengimpikan akan beruntung memiliki umur yang panjang, hal ini tercermin dari berbagai ucapan ‘selamat ulang tahun dan semoga panjang umur’ jikalau seseorang merayakan ulang tahun. Tetapi sejak kapan seseorang akan mencapai usia lanjut, tidaklah sama antara satu orang dengan yang lain. Sering ditemui orang yang sudah berumur tua tampak masih muda, tetapi sebaliknya orang yang masih muda tampak lebih tua dari umurnya.

Umur harapan hidup penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 1971 harapan hidup penduduk lelaki 40 tahun dan 45 tahun untuk wanita. Pada tahun 1988 meningkat mencapai rerata 56,5 tahun untuk lelaki dan 60 tahun untuk wanita. Diperkirakan dekade tahun 2000-an harapan hidup akan lebih dari 65 tahun (Astawan M., Wahyuni M, 1988). Meningkatnya umur harapan hidup penduduk Indonesia akan berakibat meningkatnya jumlah lansia / aging people .

Seperti diketahui di Indonesia belum ditetapkan secara jelas batas usia lansia. Beberapa negara yang telah maju seperti Jepang dengan Kementrian Tenaga Kerja menetapkan pekerja yang berusia 45 tahun ke atas dikelompokkan pada pekerja yang menjelang tua. Di Indonesia yang dimaksud dengan lansia dalam penetapan Program Kesehatan untuk Usia Lanjut, berdasar UU. No.4 tahun 1965 adalah penduduk Indonesia yang telah berumur lebih dari 55 tahun (Sudana, 1990). Badan dunia PBB menetapkan manula adalah penduduk yang berusia di atas 60 tahun (Kumashiro, M; 2000). Istilah lansia pada telaah ini ditujukan bagi orang yang berusia di atas 55 tahun.

Hasil sensus penduduk Indonesia pada tahun 1961, jumlah lansia sebesar 6,1 juta jiwa atau 6,39% dari jumlah penduduk. Pada tahun 1971 jumlahnya meningkat menjadi 7,3 juta namun secara prosentasenya turun menjadi 6,17% dari jumlah penduduk. Di tahun 1980 jumlahnya meningkat cukup tajam mencapai 11,6 juta jiwa atau 7,91% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2000-an diperkirakan penduduk lansia akan mencapai 22,3 juta atau 9,99% dari jumlah penduduk (Astawan M., Wahyuni M, 1988).

Dikaruniai usia panjang ternyata bukan tanpa masalah, secara alamiah kemampuan fisiologis organ manula telah mengalami penurunan fungsi. Perubahan gerak otot yang semakin kaku, stabilitas gerakan tangan yang gemetaran, kontrol keseimbangan semakin labil dan berbagai penurunan fungsi organ lainnya (Hari T., dkk, 2001). Perubahan dan penurunan fungsi fisiologis yang dialami oleh manula disebabkan antara lain.

a. berkurangnya cairan di dalam jaringan-jaringan tubuh,
b. meningkatnya kadar lemak dalam tubuh,
c. meningkatnya kadar zat kapur di dalam jaringan otak dan pembuluh darah, tetapi terjadi penurunan zat kapur di tulang,
d. terjadi perubahan-perubahan pada jaringan ikat,
e. menurunnya laju metabolisme basal per satuan berat badan,
f. menurunnya aktivitas hormon,
g. menurunnya aktivitas enzim, terutama enzim pencernakan;
h. terbentuknya pigmen ketuaan pada otot jantung, sel-sel saraf, kulit dan yang lainnya, dan
i. berkurangnya frekuensi denyut jantung, sehingga mengakibatkan berkurangnya peredaran darah dan peredaran zat gizi.
Yang kesemua ini mengakibatkan,
a. berkurangnya kekuatan otot,
b. berkurangnya kontrol syaraf, dan
c. menurunnya kemampuan panca indera.

(Manuaba, 1998; Ilmarinen, 1994; Rabbitt & Carmichael, 1994)

Seiring dengan makin meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, perhatian perancangan fasilitas dan sarana khusus untuk kelompok ini akan semakin besar. Pada perancangan fasilitas kamar mandi di suatu Pusat Kegiatan Lansia, Kamar mandi sebagai salah satu fungsi pelayanan pada tempat hunian, membutuhkan perhatian perancangan yang sedikit lebih, terutama yang dipergunakan oleh lansia. Perancangan kamar mandi yang lebih khusus ini, bertujuan meningkatkan rasa kenyamanan bagi lansia.

Rasa nyaman yang dirasakan sewaktu mempergunakan kamar mandi dapat berupa; a) pertama, peningkatan rasa aman beraktivitas di dalamnya, berkurangnya keseimbangan gerak lansia dan kondisi lantai yang senantiasa basah, menuntut perancangan alat bantu untuk meningkatkan stabilitas gerak di dalam ruangan tersebut; b) kedua, upaya untuk meningkatkan kemudahan dan keleluasaan gerak, letak dan ukuran ruangan yang tidak sesuai dengan peralatan sanitair yang ada, sering menjadi hambatan kemudahan dan keleluasaan gerak; dan c) ketiga, kemandirian lansia beraktivitas di dalam kamar mandi. Pilihan sistem, bahan dan jenis peralatan sanitair yang tepat, akan memudahkan aktivitas dan meningkatkan kemadirian penghuninya.

Kondisi kamar mandi pada Pusat Kegiatan Lansia Aisyiyah di Surakarta, ternyata tidak memberikan kenyamanan kepada penghuninya. Ukuran ruangan yang terlampau sempit, penggunaan lantai keramik yang licin, letak kran dan dinding bak air yang terlampau tinggi. Pilihan jenis kloset duduk, akan menyulitkan penggunaan dan pembilasan kloset. Blind-step ke arah kloset akan mengurangi keleluasaan gerak dan sangat berbahaya bagi pengguna. Untuk meningkatkan rasa nyaman lansia beraktivitas di kamar mandi, perlu perancangan ulang ruangan dan penambahan railling pegangan khusus di dalam serta luar ruangan.

Rancangan kamar mandi yang dapat memberikan keleluasaan gerak, keamanan beraktivitas dan kenyamanan kepada lansia, sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Untuk itulah perlu dilakukan penelitian, untuk ikut memecahkan permasalahan yang menyangkut rancang bangun yang diperlukan bagi penggunaan lansia.

Download Naskah

Cek Tulisan Berikut

Manajemen Risiko Kelelahan : Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko

Secara historis telah dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, meski tidak secara khusus untuk mengendalaikan kelelahan. …