Rabu , 20 September 2017
Beranda / Artikel / RUMAH KONTRAKAN DAERAH – X DI KOTA DENPASAR, TIDAK NYAMAN. DITINJAU DARI KELUHAN SUBYEKTIF DAN RESPON FISIOLOGIS PENGHUNI

RUMAH KONTRAKAN DAERAH – X DI KOTA DENPASAR, TIDAK NYAMAN. DITINJAU DARI KELUHAN SUBYEKTIF DAN RESPON FISIOLOGIS PENGHUNI

Oleh :
SOLICHUL HADI A. BAKRI
E-mail: shadibakri@uniba.ac.id

Abstrak

Penyediaan kamar sewa di pusat kota Denpasar ternyata berkembang dari waktu ke waktu. Fasilitas hunian ini mampu menampung kaum pendatang dan pekerja yang berkeinginan tinggal sementara di wilayah perkotaan, dengan pertimbangan kemudahan pencapaian keberbagai fasilitas. Tetapi kondisi kamar sewa yang tersedia, rata-rata dibangun hanya dengan pertimbangan aspek ekonomis semata, sedangkan aspek kenyamanan penghuni kurang mendapat perhatian. Kajian yang ada sangat minim untuk dapat dijadikan patokan, apakah jenis usaha ini cukup potensial untuk dikembangkan, dan mampukah memberikan kontribusi kepada pemerintah kota dalam bentuk pajak penghasilan, karena akhir-akhir ini ada rencana pengenaan pajak penghasilan oleh pemerintah daerah. Terlepas dari berbagai rencana tersebut, survei awal telah dilakukan di lima tempat yang berbeda di wilayah pusat kota, untuk mendapatkan data tentang kondisi kamar kontrakan. Selain itu juga dikumpulkan 13 data keluhan subjektif penghuni dengan kuesioner. Selanjutnya dilakukan pengukuran mikroklimat hunian yang meliputi; suhu kering, suhu basah, kelembaban, indeks suhu bola basah (ISBB), kecepatan aliran udara dan intensitas penerangan ruangan. Karena berbagai keterbatasan yang ada, telaah ini baru sampai pada tingkat observasi dan survai pendahuluan. Adapun hasil yang diperoleh adalah 1) sistem penghawaan silang/’cross ventilation’ jarang dipergunakan 2) beberapa lokasi sering kebanjiran di musim hujan 3) di siang hari, suhu kering antara 30,4-31,8 0C, suhu basah 27,4-28,6 0C, kelembaban udara 79-83 % dan kecepatan gerakan udara antara 0,05-0,2 m/det. 4) intensitas pencahayaan kurang untuk melakukan kegiatan membaca, menulis dan berias, yaitu berkisar antara 45-272,5 lux, dan 5) keluhan yang banyak dirasakan penghuni adalah rasa gerah, haus dan sering berkeringat jika berada di dalam kamar hunian. Dari hasil kajian ini, ternyata banyak hal yang perlu dilakukan, seperti upaya perbaikan oleh penghuni sendiri ataupun pemilik usaha untuk meningkatkan kenyamanan penghuni. Begitu pula pemerintah kota dalam hal ini Dinas Tata Kota berkepentingan dalam tahap perancangan, penataan, bimbingan teknis dan pengawasan implementasi lapangan.

Kata kunci : Kamar Kontrakan, kenyamanan, ergonomis, ekonomis.

 

Download Naskah

Cek Tulisan Berikut

Manajemen Risiko Kelelahan : Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko

Secara historis telah dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, meski tidak secara khusus untuk mengendalaikan kelelahan. …