Minggu , 19 November 2017
Beranda / Artikel / SARANA KERJA YANG TIDAK ERGONOMIS MENINGKATKAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA GARMENT DI BALI

SARANA KERJA YANG TIDAK ERGONOMIS MENINGKATKAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA GARMENT DI BALI

Oleh:
Solichul Hadi A. Bakri dan Tarwaka

e-mail: shadibakri@uniba.ac.id

Abstrak

Industri pakaian jadi merupakan salah satu industri yang mampu memberikan lapangan kerja baru karena sifatnya padat karya. Dan memberikan kontribusi PAD (pendapatan asli daerah) cukup tinggi di samping sektor-sektor lainnya.
Penggunaan alat, cara kerja dan sikap kerja yang tidak ergonomis di industri akan dapat mengakibatkan peningkatan keluhan ‘muskuloskeletal’ dan menurunnya produktivitas kerja. Dalam hal ini tidak hanya mengejar keuntungan yang tinggi bagi perusahaan tetapi harus memikirkan kesehatan, keselamatan dan kenyamanan pekerja yang diutamakan, karena dengan demikian pekerja akan dapat bekerja optimal, sehingga produktivitas dapat meningkat.
Untuk mengetahui korelasi keluhan muskuloskeletal dengan keadaan sarana kerja perlu dilakukan observasi, pada penelitian ini metode yang dipergunakan adalah jenis penelitian deskriptif yaitu menggambarkan situasi dari perusahaan bagaimana sarana dan sikap kerja dan hasil kerja pekerja tersebut dengan ‘one case study design’.
Dari hasil pengukuran dan analisa bahwa rerata nadi kerja pekerja dengan sikap kerja duduk adalah 84,34 d/m dan sikap kerja berdiri 85,39 d/m yang dikategorikan beban kerja ringan dan peningkatan nadi kerja pada sikap duduk dan sikap berdiri secara statistik adalah signifikan (p<0,05). Dan sarana kerja (tempat duduk dan meja kerja) yang belum memadai mengakibatkan keluhan ‘muskuloskeletal’ terutama pada pekerjaan dengan sikap kerja duduk secara terus-menerus, dirasakan oleh pekerja. Sakit/nyeri di pinggang (53,5%), bahu kanan dan kiri (54,4%), betis kiri dan kanan (42,1%), pantat dan bokong (39,4%), punggung dan lengan atas (27,1%), leher lengan bawah, siku dan telapak kaki (30,0%), serta produktivitas kerja pada posisi tubuh duduk 0,18, sedang posisi berdiri sebesar 0,22. Melalui penelitian ini disarankan kepada manajemen perusahaan agar memberikan waktu tambahan istirahat pendek (5-10 menit) setiap jam kerja di luar istirahat makan siang dan pemberian teh manis/snack. Apabila memungkinkan perbaikan sarana kerja khususnya tempat duduk yang sesuai dengan ukuran anthropometri pekerja wanita pada umumnya.
Kata Kunci: Sarana kerja, sikap kerja, keluhan muskuloskeletal, ergonomis.

 

Download Naskah

Cek Tulisan Berikut

Manajemen Risiko Kelelahan : Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko

Secara historis telah dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, meski tidak secara khusus untuk mengendalaikan kelelahan. …